Selamat Datang Para Alumni SMU P@nbat T.A - 03 and Visitor....
Selamat Menikmati seluruh fasilitas yang tersedia di blogger ini..
Menu Blog
myspace layouts

myspace comments

Showing posts with label Motivasi. Show all posts
Showing posts with label Motivasi. Show all posts

Friday, 6 February 2009

Nikmat

Nikmat


Oleh Rahmat Motivasi Islami

Nikmat Allah, jika dihitung tidak akan pernah terhitung. Namun bukan berarti kita tidak bisa menyebutkan sebagian dari nikmat Allah tersebut. Kita masih bisa menyebutkan sebagian nikmat-nikmat tersebut alih-alih kita malah melupakan nikmat-nikmat yang sangat banyak tersebut. Sering kali kita malah melupakan nikmat Allah yang telah kita berikan kepada kita. Salah satunya ialah dengan mengeluh.

“Dan sesungguhnya Tuhanmu benar-benar mempunyai kurnia yang besar (yang diberikan-Nya) kepada manusia, tetapi kebanyakan mereka tidak mensyukuri(nya).” (QS An Naml:73) Melupakan nikmat sering terjadi karena kita selalu memikirkan apa yang belum atau tidak kita punya ketimbang memikirkan apa yang belum kita punya. Melupakan nikmat bisa juga terjadi karena kesombongan kita, seolah-olah apa yang
kita dapatkan adalah hasil usaha kita semata tanpa pertolongan Allah. Penyebab selanjutnya ialah bisa saja
karena kita kurang mengingat Allah sehingga kita juga lupa bahwa apa yang kita miliki adalah atas kehendak Allah.

Melupakan nikmat akan merusak mental kita. Hal yang paling mudah kita rasakan adalah perasaan kita yang tidak enak jika kita mengeluh, atau setidaknya kita tidak memiliki perasaan bahagia. Sebaliknya jika kita bersyukur perasaan kita akan enak dan bahagia karena begitu banyak nikmat yang telah Allah berikan kepada kita. Perasaan yang enak (feel good) dan perasaan bahagia akan membentuk mental kemenangan
bagi kita, kita akan lebih semangat menjalani hidup ini.

Bersyukur akan membentuk pola pikir terbuka, sehingga akan terbuka untuk nikmat-nikmat berikutnya.
Bersyukur bukan berarti hanya mengingat nikmat yang telah diberikan kepada kita dan melupakan yang kita inginkan. Bukan, justru bersyukur sebagai sarana untuk menambah nikmat-nikmat selanjutnya, sehingga wajar saat kita bersyukur kita juga berusaha dan berdoa untuk nikmat selanjutnya, bukankah Allah sendiri yang akan menambah nikmat jika kita bersyukur?

Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (QS. Ibrahim:7)

Nikmat

Nikmat


Oleh Rahmat Motivasi Islami

Nikmat Allah, jika dihitung tidak akan pernah terhitung. Namun bukan berarti kita tidak bisa menyebutkan sebagian dari nikmat Allah tersebut. Kita masih bisa menyebutkan sebagian nikmat-nikmat tersebut alih-alih kita malah melupakan nikmat-nikmat yang sangat banyak tersebut. Sering kali kita malah melupakan nikmat Allah yang telah kita berikan kepada kita. Salah satunya ialah dengan mengeluh.

“Dan sesungguhnya Tuhanmu benar-benar mempunyai kurnia yang besar (yang diberikan-Nya) kepada manusia, tetapi kebanyakan mereka tidak mensyukuri(nya).” (QS An Naml:73) Melupakan nikmat sering terjadi karena kita selalu memikirkan apa yang belum atau tidak kita punya ketimbang memikirkan apa yang belum kita punya. Melupakan nikmat bisa juga terjadi karena kesombongan kita, seolah-olah apa yang
kita dapatkan adalah hasil usaha kita semata tanpa pertolongan Allah. Penyebab selanjutnya ialah bisa saja
karena kita kurang mengingat Allah sehingga kita juga lupa bahwa apa yang kita miliki adalah atas kehendak Allah.

Melupakan nikmat akan merusak mental kita. Hal yang paling mudah kita rasakan adalah perasaan kita yang tidak enak jika kita mengeluh, atau setidaknya kita tidak memiliki perasaan bahagia. Sebaliknya jika kita bersyukur perasaan kita akan enak dan bahagia karena begitu banyak nikmat yang telah Allah berikan kepada kita. Perasaan yang enak (feel good) dan perasaan bahagia akan membentuk mental kemenangan
bagi kita, kita akan lebih semangat menjalani hidup ini.

Bersyukur akan membentuk pola pikir terbuka, sehingga akan terbuka untuk nikmat-nikmat berikutnya.
Bersyukur bukan berarti hanya mengingat nikmat yang telah diberikan kepada kita dan melupakan yang kita inginkan. Bukan, justru bersyukur sebagai sarana untuk menambah nikmat-nikmat selanjutnya, sehingga wajar saat kita bersyukur kita juga berusaha dan berdoa untuk nikmat selanjutnya, bukankah Allah sendiri yang akan menambah nikmat jika kita bersyukur?

Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (QS. Ibrahim:7)

Wednesday, 4 February 2009

CEWEK BEGINI, COWOK BEGITU.

CEWEK BEGINI, COWOK BEGITU...

Masih banyak perbedaan antara cowok dan cewek dalam soal cinta atau asmara. Karena sifatnya yang "cuek", tidak perdulian dan jarang meneteskan air mata, tak heran kalau cowok selalu menjadi "kambing hitam" atau pihak yang dibenci bila sebuah hubungan asmara terpaksa berakhir. Sebaliknya, cewek selalu nampak lebih menderita akibat putus cinta.

Dalam Liking and Loving: An Invitation to Social Psychology (1973), Zick Rubin, mengatakan bahwa cowok sebenarnya lebih rapuh, cengeng dan naif soal cinta. Cowok selalu menjadi pihak yang merasa lebih sakit hati akibat putus cinta. "Karena hal itu, biasanya cowok akan lebih hati-hati. Itulah kenapa cowok memiliki pengalaman bercinta lebih sedikit dari cewek, karena setelah putus, cowok akan sulit untuk jatuh cinta lagi," kata Rubin.

Dr. Clay Tucker-Ladd, penulis buku-buku psikologi, mengatakan bahwa cewek selalu ingin menempatkan dirinya sebagai pasangan yang ideal. Sebaliknya, karena pengalaman -yang tidak selalu mulus-, cowok kerap bersikap biasa-biasa saja. "Kendati mudah tertarik dengan kecantikan dan kebaikan cewek, namun sulit bagi cowok untuk menghapus rasa sakit akibat putus cinta."

Cowok, kata Rubin, lebih percaya pada romantisme. Cowok bisa memutuskan apakah dia jatuh cinta atau tidak, hanya dengan mendengar kata hatinya. "Sekali saja intusisi cowok berkata 'Ini dia soulmate saya' ketika bertemu seorang cewek, maka ketika itu pula mereka akan jatuh cinta kepada cewek itu," ungkap Rubin. "Sebaliknya, cewek selalu banyak pertimbangan dalam memutuskan sesuatu."

Kendati percaya pada romantisme, tapi jangan kaget, karena cowok kerap merefleksikan cinta mereka dengan cara yang tidak romantis. "Cowok akan lebih menghargai cewek yang rajin mencuci pirinng dan pakaian ketimbang cewek yang menghujaninya dengan ciuman. Padahal cewek justru menginginkan sebaliknya."

Bila disarankan untuk membahagiakan pacar atau istri, maka harap maklum, karena cowok akan lebih suka mencucikan mobil pacar atau istri daripada memberi pelukan dan ciuman. Dalam memandang keintiman, misalnya, cewek menerjemahkan keintiman sebagai ngobrol berdua di tempat redup atau makan malam di sebuah restoran sepi dengan candle light. Tetapi bagi cowok, keintiman itu artinya kerja bakti, alias melakukan sesuatu bersama-sama.

Cewek selalu memiliki tenggang rasa dan lebih bisa menjaga hubungan. Sedangkan cowok selalu "cuek" dan main "hantam kromo". Cewek selalu memikirkan bagaimana cara membagi penghasilannya dan cowoknya untuk dia sendiri, keluarga dan teman-teman. Sedangkan cowok, tak pernah mau pusing dengan masalah duit.

Cewek biasanya lebih cerewet. Cewek juga sering mengeluh soal hubungan dan masalah yang dihadapi. Sedang cowok tidak begitu peduli dan selalu menganggap semuanya biasa-biasa saja. Cewek selalu ingin menyelesaikan masalah dan perbedaan pendapat yang ada dengan tuntas, sedang cowok justru ingin melupakannya. Begitulah dunia Venus dan Mars!!!

Saturday, 31 January 2009

Menjemput Rejeki

Menjemput Rejeki
Oleh: Abdul Rahman


''Janganlah merasa bahwa rizkimu datangnya terlambat. Karena, sesungguhnya, tidaklah seorang hamba akan meninggal hingga telah datang kepadanya rizki terakhir yang telah ditentukan untuknya. Maka, tempuhlah jalan yang baik dalam mencari rizki, yaitu dengan mengambil yang halal dan meninggalkan yang haram.'' (HR Al-Hakim). Sering kali, manusia diliputi rasa gundah dan putus asa atas kepastian rizki yang akan diperolehnya. Apalagi, di tengah kondisi perekonomian bangsa yang kian terpuruk. Kenaikan harga sembako, maraknya PHK, sempitnya lapangan kerja, serta minimnya keahlian yang dimiliki menjadi momok yang menakutkan.

Di tengah kondisi krisis ekonomi, mestinya tidak menjadikan seseorang putus asa akan karunia Allah SWT jika saja mengimani hadits di atas. Rasa putus asa dan kekhawatiran yang berlebihan justru akan lebih mempersulit terbukanya pintu rizki yang telah digariskan. Rasa yakin dan optimis mestinya terus dipupuk dalam hati akan datangnya rizki Allah, dengan dibarengi usaha maksimal dan tawakal tentunya.

Dalam Alquran, Allah SWT memerintahkan hambanya untuk terus yakin dan optimis akan datangnya anugerah serta karunia-Nya dengan cara menghempaskan jauh-jauh rasa putus asa tersebut dalam lubuk hati seorang Mukmin. ''... dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya, tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir.'' (QS Yusuf [12]: 87).

Tugas manusia adalah menjemput rizki dengan berusaha dan berdoa sebaik-baiknya sesuai etika dan jalan yang dibenarkan Allah dan Rasul-Nya. Adapun, setelah itu, kita diperintahkan untuk menyerahkan segala hasil jerih payah kita sepenuhnya pada Allah SWT.Mustahil bagi Allah SWT menyalahi janji pada hambanya yang telah berusaha sekuat yang ia mampu. Karena, sesungguhnya, ia akan mendapatkan balasan selaras dengan usaha yang telah dikerahkan. ''Dan, katakanlah, bekerjalah kamu sekalian.

Maka, Allah dan Rasul-Nya beserta orang-orang Mukmin akan melihat pekerjaanmu itu dan kamu akan dikembalikan kepada-Nya yang mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata. Lalu, diberikan-Nya kepada kamu apa yang kamu kerjakan.'' (QS Attaubah [9]: 105). Jiwa pantang menyerah dan tidak putus asa adalah karakter seorang Muslim. Maka, maksimalkanlah segala kemampuan yang dimiliki untuk menjemput jatah yang telah ditetapkan. Karena, itu adalah ibadah.

Monday, 12 January 2009

Jadilah Berlian dimana pun anda berada

Jadilah Berlian dimana pun anda berada



Kebanyakan karyawan tidak mampu mempertahankan dirinya untuk selalu berkarya dan berkinerja yang terbaik bagi perusahaannya. Salah satu faktor penyebabnya adalah adanya tuntutan akan hak yang terkadang lebih besar dibanding kewajibannya. Setelah sekian lama orang tidak naik pangkat misalnya atau tertinggal dibanding teman seangkatan misalnya menimbulkan frustasi dan kecenderungan untuk menjadi tidak productive lagi. Meskipun pada awalnya berkarya dan berkinerja bagus pada akhirnya si "berlian" memutuskan dirinya untuk meredup dan memilih menjadi batu yang tidak berharga lagi.

Memang tidak banyak orang bisa bersabar, padahal sabar adalah ujian tersendiri bagi manusia. Disaat seorang karyawan cenderung untuk mematikan cahaya berliannya alias mendemotivasi dirinya maka sebenarnya dia memilih menutup dirinya untuk menjadi sesuatu yang tidak lagi menarik.

Bukankah hanya perubahan saja yang kekal? Tidak ada yang selamanya statik di dunia ini. Semua berubah, demikian juga managemen di dalam perusahaan juga pasti akan berubah. Disaat anda memilih untuk demotivasi dan bekerja apa adanya sebagai bentuk protes akan karir anda maka anda sesungguhnya memilih untuk tidak pernah berubah. Dan hal ini menyebabkan diri kita menjadi semakin terpuruk, karena tidak ada lagi yang mencari, menemukan atau bahkan melirik "berlian" yang berubah menjadi "batu" yang tiada bernilai apa-apa.

Kobarkan semangat sabar di dalam diri anda sebagai cahaya yang terus menyala dimana pun anda berada, pastilah suatu ketika ada seseorang yang tertarik untuk memilikinya


Good


Dimaz

Neurotrepreneur ... set mind set anda untuk kaya

Neurotrepreneur ... set mind set anda untuk kaya



Bisakah semua orang menjadi kaya? Jawabnya tentu saja bisa. Seberapa besar kaya itu? Jawabnya tergantung pada setiap individu memandang makna "kaya". Pernahkah anda mendapat uang senilai 100 ribu? Atau mungkin 1 juta? Bagaimana perasaan anda saat menerima uang itu? Saya tebak pasti mind set anda mengatakan uang itu tidak besar & saya yakin anda biasa-biasa saja menerima uang itu. Tapi lihat perbedaannya saat anda diminta untuk menyumbang misalnya, yg berarti anda mengeluarkan uang dari kantong anda. Berapa uang yg anda keluarkan? Saya tebak lagi pasti uang receh yg anda keluarkan. Karena mind set anda mengatakan bahwa uang menjadi bernilai lebih besar saat harus dikeluarkan.

Dari tulisan diatas menunjukkan bahwa pikiran kita bisa memaknai sesuatu yang sebenarnya bernilai sama dengan mind set yang berbeda. Untuk menjadi "kaya" bisakah semua orang mendapatkannya? Ya tentu saja bisa tergantung dari bagaimana mind set anda mamandang tentang makna kaya. Jika anda menset mind anda bahwa untuk menjadi kaya adalah "sulit" maka pastilah seluruh potensi diri anda akan enggan untuk mengejar dan menjemput kekayaan yang sebenarnya sangat berlimpah di muka bumi ini dimana kita tinggal mau dan mampu menjemputnya.

Namun sebaliknya jika anda membuat mind set anda tentang kaya adalah sesuatu hal yg mudah untuk anda peroleh maka seluruh potensi diri anda akan berbalik utnuk mengejar dan menjemput kekayaan (rejeki) yang tersedia luar biasa di muka bumi ini dari Sang Pencipta.

Lalu mengapa orang berbeda tingkat "kaya"nya? Ya jawabannya balik lagi bahwa tiap orang juga beda-beda mind setnya memandang tentang makna kaya. Setelah mind set tentang kaya kita peroleh maka pakailah ilmu meniru. Di dalam NLP (Neuro Linguistik Program) kaya sebenarnya juga mempunyai pola atau pattern. Orang kaya pastilah mempunyai pola yang bisa dipelajari. Banyak hal yg bisa ditiru, dlm kesempatan ini saya ingin bantu anda dengan melakukan mirror pada orang-orang yang anda anggap sukses.

Cara & gaya bicaranya serta seluruh bahasa tubuhnya seperti saat berjalan, saat duduk, saat bernafas dst. Tidak ada orang yg kayanya jalannya pelan misalnya. Tidak ada orang kaya yang sering menundukkan kepala saat bicara. Jadi setelah anda ubah mind set anda tentang kaya maka bahasa tubuh anda juga harus anda sesuaikan dengan mengamati bagaimana bahasa tubuh orang-orang kaya.

Mengapa harus meniru bahasa tubuhnya? Ya supaya pikiran bawah sadar anda teredukasi seakan-akan anda saat ini sudah kaya. Kalau pikiran bawah sadarnya sudah terbiasa teredukasi maka seluruh potensi diri akan keluar untuk mengejarnya dan menarik keinginan menjadi mendekat sebagaimana hukum LOA.

Selanjutnya tinggal anda pelajari cara kerjanya, strategi-strategi apa yang dilakukan dan jangan lupa untuk memodifikasi apa yang telah anda tiru tersebut. Neurotrepreneur adalah sebuah metode untuk meniru orang-orang yg sukses dengan menjadi entrepreneur. Bisakah anda yg karyawan untuk menjadi kaya? Ya tentu saja sangat bisa tergantung mind set anda memandang bagaimana seorang karyawan. Adakah model yg bisa anda tiru? Seorang karyawan tetapi juga berhasil menjadi entrepreneur?

Praktekkan dan salam sukses

Malas Yang Mengganggu

Malas Yang Mengganggu


Hampir semua orang dihinggapi oleh rasa malas. Malas seringkali mengganggu seseorang untuk berprestasi. Malas menjangkiti semua orang tanpa mengenal umur, tanpa mengenal jabatan. Pelajar, mahasiswa, karyawan, guru, dosen apapun profesinya pernah dihinggapi bahkan sering dihinggapi rasa malas. Apa sebenarnya malas itu?

Pada dasarnya di dalam diri setiap orang ada 2 bagian yang saling bertentangan tetapi mempunyai tujuan yang sama yaitu membuat si tuannya menjadi bahagia (enjoy). Saya mendefinisikannya menjadi 2 pikiran yaitu pikiran sadar & pikiran bawah sadar. Lalu apa hubungannya dengan malas? Ya malas adalah salah satu bagian di dalam diri kita yang tersimpan di dalam pikiran bawah sadar.

Seperti telah beberapa waktu yg lalu sering saya singgung bahwa pikiran sadar memegang kendali atas diri kita hampir 90% dan pikiran sadar hanya 10%nya saja. Akibatnya jika kedua bagian itu tidak sinkron saling bersinergi maka bagian dari pikiran bawah sadar akan selalu memenangkan pertempuran antar 2 bagian tersebut.

Nggak percaya? Baiklah saya akan berikan contoh yang sederhana saja. Setiap orang pasti ingin dirinya sehat bukan? Ingin sehat adalah berada di pikiran sadar dimana untuk sehat ia ingin bangun pagi untuk jalan pagi. Namun saat bangun pagi muncul rasa malas, dimana rasa malas adalah bagian di dalam pikiran bawah sadar yang menyebabkan mengurungkan niat untuk jalan dan melanjutkan tidur.

Contoh sederhana diatas menunjukkan bahwa ketidaksesuaian antara pikiran sadar & pikiran bawah sadar akan selalu dimenangkan oleh pikiran bawah sadar. Artinya jika malas selalu dipelihara makaia akan selalu menang dalam setiap pertempuran. Lalu bagaimana mensiasatinya? Ya tentunya harus dibuat kesesuaian antara keinginan di pikiran sadar dengan program yg tepat dan mendukung di pikiran bawah sadarnya.

Caranya? Baiklah saya berikan caranya untuk contoh sederhana tersebut yg bisa anda kembangkan sendiri untuk kasusu yg lain baik dalam bidang studi, pekerjaan, kewirausahaan dll yang sangat berpengaruh oada kinerja dan prestasi anda. Kembali pada contoh sederhana tadi, disaat anda ingin sehat dan ingin untuk bisa bangun pagi untuk jalan2, maka di malam menjelang tidur lakukan sbb:
- Niatkan kembali keinginan anda untuk bangun pagi
- Fokuskan pada result keinginan anda (sehat wal afiat)
- Bayangkan fokus result anda tsb dg manfaat sehat misal(tampilan fisik, keuangan, keluarga bahagia dll)
- Ajaklah pikiran bawah sadar anda untuk mendukung imajinasi anda.

Demikian sedikit sharing dari saya semoga menbantu untuk anda program sendiri pikiran bawah sadar dg hal-hal lain yang lebih bermanfaat untuk merealisasikan keinginan-keinginan anda. Lakukanlah untuk hal-hal / keinginan anda yang simple, sehingga keberhasilan anda akan mengedukasi pikiran bawah sadar untuk meraih keinginan anda selanjutnya

Selamat mencoba

Hiu Kecil & Nelayan Jepang




Orang Jepang terkenal sebagai penggemar makanan berbahan dasar ikan segar. Mereka selalu menginginkan cita rasa ikan yang segar dan bukan ikan yg sudah mati. Karena alasan tersebut nelayan di Jepang berusaha mencari jalan keluar terbaik. Untuk mengatasi hal tersebut nelayan-nelayan tersebut sering membawa Freezer supaya ikan hasil tangkapan mereka tetap segar. Namun upaya tsb tidak memuaskan pelanggan penikmat ikan segar.

Langkah selanjutnya yang ditempuh oleh para nelayan adalah dengan membawa tangki yang agak besar saat melaut, dimana ikan hasil tangkapan akan disimpan di tangki-tangi tersebut. Ikan-ikan itu dijejalkan dalm tangki tersebut, akibatnya setelah sekian lama ikan tersebut berdesak-desakan dan sling bertabarkan ikan menjadi lemas namun tetap hidup saat dibawa ke pantai. Namun sekali lagi para penikmat ikan segar tidak suka menikmati ikan yang lemas karena cita rasa yang berkurang.

Akhirnya para nelayan di Jepang menemukan sebuah ide luar biasa dimana mereka tidak memasukkan ikan terlalu banyak di tangki yang mereka bawa sekaligus memasukkan seekor ikan hiu kecil. Mengapa ikan hiu? Jawabnya adalah ikan hiu tersebut memang memakan ikan di dalm tangki tetapi jumlahnya tidak banyak, sementara ikan-ikan yang lain akan terus bergerak karena dikejar-kejar hiu kecil tadi. Ikan hasil tangkapan menjadi selalu siaga dan tanpa disadari sudah terangkut menuju ke pantai. Dan alhasil ikan tangkapan menjadi tetap segar. Para penikmat ikan segarpun merasa puas akan hasil tangkapan nelayan-nelayan Jepan tersebut.

Pelajaran apa dari cerita diatas? Ya ternyata tantangan dan masalah menandakan bahwa kita masih hidup. Tantangan membuat seseorag semakin matang dan dewasa dalam perkembangan mentalnya.Tantangan ysng dijalani dengan baik akan memberikan pembelajaran yg terbaik di dalam kehidupan seseorang.

Anak yang selalu mendapatkan fasilitas dari orang tuanya akan sulit untuk mandiri dan memiliki mentalitas yang rapuh. Karyawan yang bekerja dalam rutinitas dan tidak ada tantangan akan mematikan kompetensi yang dia punya sehingga pada akhirnya terjangkit demotivasi.

Ketika merasa belum ada tantangan berarti di dalam kehidupan, maka saatnya kita menghadirkan hiu-hiu kecil di kehidupan kita. Sukses selalu ....

Rantai Anak Gaja

Mungkin pembaca blog sudah pernah membaca cerita inspirasi ini. Namun tak masalah mungkin banyak juga yang belum pernah mendengar atau membacanya. Cerita ini mengisahkan tentang seekor anak gajah yang tertangkap oleh petani karena terpisah dari kawanannya akibat seringnya merusak lahan para petani. Anak gajah itu akhirnya diikat dengan menggunakan rantai kecil bekas untuk mengikat anjing. Terus bagaimana ..? Sabar ya ...

Si anak gajah yang masih kecil itu diikat dengan seutas rantai sehingga ia tidak bisa menggerakkan kakinya. Ia berusaha untuk menarik rantai kecil itu, namun kekuatan yg ia punyai tidak cukup untuk bisa menggerakan dan menjebol rantai yang mengikat kakinya.

Hari berganti hari, bulan berganti bulan dan tahun berganti tahun si anak gajah dipelihara oleh petani tersebut dan selalu diikat dengan rantai pengikat anjing yang sebenarnya tidak sebanding dengan tubug besarnya yang semakin besar dari waktu ke waktu.

Rupanya si Gajah menjadi tidak berdaya tatkala kakinya diikat dengan rantai kecil yang pernah mengikatnya semenjak kecil. Ingatan si gajah kecil selalu terbawa sampai dewasa dan menjadi sebuah "anchor" sehingga kekuatannya menjadi tidak bisa muncul disaat rantai itu mengikat kakinya. Dia menganggap dirinya tidak pernah mampu untuk melepaskan dirinya disaat rantai yang menjadi anchor dalam hidupnya mulai muncul kembali.

Cerita itu mrnunjukkan bahwa sesungguhnya kekuatan dan potensi diri hanya bisa keluar disaat seseorang tidak membatasi kemampuannya sendiri. Pembatasan atas kemampuan diri bisa disebabkan oleh banyak faktor baik faktor trauma, phobia dari internal diri maupun faktor eksternal yang sering membuat rasa percaya diri menjadi terbelenggu, sebagaimana si anak gajah yg tidak pernah berani untuk melepaskan belenggu rantai pengikat anjing sampai dewasa.

Segera lepaskan belenggu-belenggu di diri anda, dan yakini kekuatan serta potensi diri anda siap bekerja optimal.

Sudah Penuhkah Gelas ITU

Pada suatu hari, seorang dosen hendak bertanya pada murid-muridnya. Ia membawa sebuah gelas besar sebagai alat peraga untuk membantunya menyampaikan maksudnya. Dosen itu kemudian mengisi gelas besar itu dengan batu-batu yang agak besar, sehingga mencapai tinggi mulut gelas tersebut. Bertanyalah ia pada murid-muridnya, “Sudah penuhkah gelas saya?” “Sudah!” jawab murid-muridnya lantang.


Tetapi kemudian, ia mengambil batu-batu kerikil yang kecil, dan kembali ia tuangkan ke dalam gelas tadi. Batu-batu kerikil itu mengisi rongga-rongga yang dibuat oleh batu-batu besar tersebut. Sekali lagi dosen itu bertanya pada murid-muridnya,”Sudah penuhkah gelas saya?” Sekali lagi, murid-murid tersebut menjawab, ”Sudah penuh!”

Kemudian dosen tersebut menjawab dengan perlahan-lahan mengisikan pasir ke dalam gelas tersebut, dan pasir tersebut mengisi rongga-rongga yang masih ditinggalkan oleh batu besar dan kerikil. Sehingga terlihat lebih penuhlah gelas tersebut. Sekali lagi ia bertanya, ”Sudah penuhkah gelas saya?” Murid-murid hanya bisa tertegun kaget, tidak menyangka gelas tersebut akan diisikan oleh pasir. Lagi-lagi mereka menjawab dengan penuh keyakinan, ”Sudah! Kali ini pasti sudah penuh.”

Kemudian, si dosen mengambil segelas air, dan menuangkannya ke dalam gelas yang telah berisi batu besar, kerikil, dan pasir. Air mengalir perlahan, mengisi kekosongan yang ditinggalkan bahkan oleh pasir sekalipun. Tertegunlah murid-murid, rupanya gelas baru penuh setelah diisikan air.

Dahulukan Batu Besar
”Gelas ini adalah hidup kita,” kata si dosen menjelaskan. ”Batu-batu besar tersebut, adalah hal-hal yang kita anggap paling penting dalam hidup kita ini. Batu-batu ini akan memerlukan perhatian ekstra, prioritas ekstra, dan tenaga ekstra. Maka kita harus mendahulukan batu-batu besar tersebut dalam hidup kita ini,” sambung si dosen. ”Jikalau kita meletakkan batu kerikil atau pasir terlebih dahulu dalam gelas kita, maka tidak akan ada tempat yang tersisa dalam gelas ini, dan selamanya batu besar itu akan berada di luar gelas(hidup) kita ini,” katanya lagi.

Apakah yang dimaksud dengan batu besar itu? Keluarga adalah contoh yang paling baik. Orang-orang yang kita cintai dalam hidup kita. Janganlah mendahulukan pekerjaan, hobi, ataupun uang daripada mereka. Selamanya, keluarga kita akan berada di luar gelas kehidupan kita. Sudah sering terjadi contoh kasus nyata, seberapapun suksesnya kita, akan menjadi kekosongan dan kehampaan belaka, bila keluarga kita berantakan, bila kita tidak pernah punya waktu untuk bersama-sama dengan mereka. Justru, bagi orang-orang sukses yang telah memiliki harta segudang, kebahagiaan terbesar adalah saat mereka bisa kembali rukun dan hidup bahagia bersama orang-orang yang paling mereka cintai.

Rongga-rongga dalam Gelas
Sering kali, kita sudah merasa gelas kita sudah penuh, tetapi sesungguhnya gelas tersebut masih mempunyai banyak rongga kosong yang bisa kita isi. Sama seperti waktu dalam kehidupan kita. Seringkali kita merasa jadwal kita sudah penuh, dan tidak bisa diisi apa-apa lagi. Keadaan seperti itu sama seperti keadaan gelas yang baru diisi dengan batu besar dan kerikil. Kita tidak memanfaatkan kekosongan ruang (rongga) yang terbentuk oleh batu besar dan kerikil untuk mengisinya dengan pasir dan air.

Dengan mengabaikan rongga-rongga itu, kita telah membuang banyak kesempatan dan hal-hal lain yang sebenarnya masih bisa kita lakukan di antara hal-hal penting dan utama dalam keseharian kita. Kita tidak memanfaatkan gelas tersebut secara maksimal.

Hal yang nyata mungkin bisa dijadikan contoh, adalah seseorang yang terlalu malas untuk mengembangkan dirinya selagi ia memiliki banyak waktu luang. Katakanlah, seseorang yang masih kuliah. Ia belajar dengan baik dan selalu menyempatkan waktu untuk keluarga. Ia melakukan hal yang benar dengan menempatkan batu-batu besar dan kerikil terlebih dahulu. Tetapi, bagaimana dengan rongga-rongganya ? Sebetulnya ia masih bisa mengisi waktu yang ia punya dengan kegiatan yang lebih positif, ia bisa mengajar, ia bisa ikut kegiatan ekstra-kurikuler, ia bisa mengembangkan diri, belajar lagi, dan segudang hal positif lain yang bisa ia lakukan. Tetapi, ia tidak mau mengisi rongga-rongga tersebut, entah karena ia memang tidak mampu melihat rongga-rongganya, ataukah karena kemalasan semata. Setelah beberapa tahun berlalu, ia mungkin baru akan menyadari hal tersebut, dan yang tersisa hanyalah penyesalan semata.

Selagi masih ada waktu dan kesempatan, seberapa kecil pun itu ataupun kita pikir sudah terlambat, cobalah untuk terus mengisi gelas kehidupan kita sampai penuh. Cobalah lihat kembali jadwal rutinitas kita, hal-hal apakah yang sesungguhnya masih kurang dari kita, dan yang ingin kita lakukan, untuk membuat hidup kita ini ’penuh’.

Ingatlah, kesuksesan yang sesungguhnya, hanya bila kita mampu meletakkan batu besar, kerikil, pasir, dan air dalam gelas kehidupan kita dalam urutan yang benar, dan sampai ’penuh’.

Saturday, 29 November 2008

Belajar Dari Ular Tanggan

Ketika saya pulang di sebuah senja, saya masih melihatnya duduk di sana. Seorang wanita empat puluhan duduk dalam kiosnya di tepi seruas jalan di kotaku yang telah ribuan kali kulewati. Puluhan tahun yang lalu ketika usia saya masih belum genap sembilan tahun, kios itu sudah ada disana. Menjajakan majalah, koran, dan sejumlah barang kelontong.

Ketika itu mobil kami berhenti di depan kiosnya dan wanita itu datang menghampiri membawa apa yang biasanya kami inginkan, majalah Ananda dan Bobo buat saya serta majalah Tempo dan Intisari untuk ayah. Demikian terjadi sepekan sekali sepulang sekolah selama bertahun-tahun hingga tiba saatnya saya beranjak remaja dan berganti selera baca, saya tak lagi menemui wanita itu.

Sekonyong-konyong di senja itu, tatapan mata saya ke luar angkot yang tengah membawa saya pulang ke rumah, menyapu kios itu dan wanita yang sama di dalamnya. Bedanya, kali ini ia tak lagi menjajakan koran dan majalah. Hanya rokok, minuman cola, air mineral, dan sejumlah barang lain. Apakah itu semacam kemunduran perniagaan, saya tak tahu persis. Yang tampak jelas bagi sel-sel kelabu saya adalah kenyataan bahwa ia, untuk menafkahi hidupnya, masih saja duduk di tempat yang sama, setelah lewat bertahun-tahun.

Suatu sore lain dalam sebuah gerbong kereta yang saya tumpangi, saya menatap puluhan gubuk dan rumah petak di sepanjang lintasan rel yang menuju stasiun Senen. Benak saya digelayuti iba dan juga pertanyaan. Sejumlah gerobak mie ayam melintas di jendela dengan cepat. Apa yang begitu menarik dari kota ini, begitu pertanyaan saya, sehingga mereka sanggup bertahan dalam kepapaannya di tengah gemuruh Jakarta yang keras. Apakah itu nasib? Adakah nasib yang membuat Ibu penjaja koran yang tinggal di Semarang dan mereka yang tinggal di kompleks kumuh Jakarta tetap bertahan di sana?

Bagaimana bisa kita memahami nasib? Saya tak bisa. Tetapi keponakan saya yang berumur lima tahun punya petunjuknya.

Saat itu saya sedang bermain berdua dengannya: Ular-Tangga. Setelah beberapa lama bermain dan bosan mulai merambati benak, saya meraih surat kabar dan mulai membaca-baca. Nanda, keponakan saya itu, kemudian berkata, "Ayo jalan! Gililan Om. Kalo nggak jalan juga, Om bakal nggak naik-naik, di situ telus, dan mainnya nggak selesai-selesai."

Saya tersadar. Ular-Tangga, permainan semasa kita kanak-kanak, adalah contoh yang bagus tentang permainan nasib manusia. Ada petak-petak yang harus dilewati. Ada Tangga yang akan membawa kita naik ke petak yang lebih tinggi. Ada Ular yang akan membuat kita turun ke petak di bawahnya.

Kita hidup. Dan sedang bermain dengan banyak papan Ular-Tangga. Ada papan yang bernama kuliah. Ada papan yang bernama karir. Suka atau tidak dengan permainan yang sedang dijalaninya, setiap orang harus melangkah. Atau ia terus saja ada di petak itu. Suka tak suka, setiap orang harus mengocok dan melempar dadunya. Dan sebatas itulah ikhtiar manusia: melempar dadu (dan memprediksi hasilnya dengan teori peluang). Hasil akhirnya, berapa jumlahan yang keluar, adalah mutlak kuasa Tuhan. Apakah Ular yang akan kita temui, ataukah Tangga, Allah-lah yang mengatur. Dan disitulah nasib. Kuasa kita hanyalah sebatas melempar dadu.

Malangnya, ada juga manusia yang enggan melempar dadu dan menyangka bahwa itulah nasibnya. Bahwa di situlah nasibnya, di petak itu. Mereka yang malang itu, terus saja ada di sana. Menerima keadaan sebagai Nasib, tanpa pernah melempar dadu. Mereka yang takut melempar dadu, takkan pernah beranjak ke mana-mana. Mereka yang enggan melempar dadu, takkan pernah menyelesaikan permainannya. Setiap kali menemui Ular, lemparkan dadumu kembali. Optimislah bahwa di antara sekian lemparan, kau akan menemukan Tangga. Beda antara orang yang optimis dan pesimis bila keduanya sama-sama gagal, Si Pesimis menemukan kekecewaan dan Sang Optimis mendapatkan harapan.

Apa Yg Engkau Cari

Ketenangan yang dikau cari ataukah Kedamaian?
Kegembiraan yang dikau cari ataukah Kebahagiaan?
Rizqi yang dikau cari ataukah Keberkahan?

Sebagian puas telah capai ketenangan,
meski belum capai kedamaian

Sebagian puas telah nikmati kegembiraan,
meski belum nikmati kebahagiaan

Sebagian puas telah peroleh kelimpahan rizqi,
meski belum peroleh keberkahan

O Jiwa yang damai, kembalilah.. .
kembali dalam keadaan bahagia
kembali ke dalam kemahaluasan berkah Yang Esa

Catatan Harian Membuka Hati jurnal refleksi diri pemuda Wiyoso Hadi diterbitkan oleh Penerbit Hikmah bekerja sama dengan PH Pro. Cetakan kedua September 2006.

Mencintai tanpa SYARAT ( True Story)

Based on True Story..

Dilihat dari usianya beliau sudah tidak muda lagi, usia yg sudah senja bahkan sudah mendekati malam,pak Suyatno 58 tahun kesehariannya diisi dengan merawat istrinya yang sakit istrinya juga sudah tua. mereka menikah sudah lebih 32 tahun

Mereka dikarunia 4 orang anak disinilah awal cobaan menerpa,setelah istrinya melahirkan anak ke empat tiba2 kakinya lumpuh dan tidak bisa digerakkan itu terjadi selama 2 tahun, menginjak tahun ke tiga seluruh tubuhnya menjadi lemah bahkan terasa tidak bertulang lidahnyapun sudah tidak bisa digerakkan lagi.

Setiap hari pak suyatno memandikan, membersihkan kotoran, menyuapi, dan mengangkat istrinya keatas tempat tidur. Sebelum berangkat kerja dia letakkan istrinya didepan TV supaya istrinya tidak merasa kesepian.

Walau istrinya tidak dapat bicara tapi dia selalu melihat istrinya tersenyum, untunglah tempat usaha pak suyatno tidak begitu jauh dari rumahnya sehingga siang hari dia pulang untuk menyuapi istrinya makan siang. sorenya dia pulang memandikan istrinya, mengganti pakaian dan selepas maghrib dia temani istrinya nonton televisi sambil menceritakan apa2 saja yg dia alami seharian. Walaupun istrinya hanya bisa memandang tapi tidak bisa menanggapi, pak suyatno sudah cukup senang bahkan dia selalu menggoda istrinya setiap berangkat tidur.

Rutinitas ini dilakukan pak suyatno lebih kurang 25 tahun, dengan sabar dia merawat istrinya bahkan sambil membesarkan ke empat buah hati mereka, sekarang anak2 mereka sudah dewasa tinggal si bungsu yg masih kuliah.

Pada suatu hari ke empat anak suyatno berkumpul dirumah orang tua mereka sambil menjenguk ibunya. Karena setelah anak mereka menikah sudah tinggal dengan keluarga masing2 dan pak suyatno memutuskan ibu mereka dia yg merawat, yang dia inginkan hanya satu semua anaknya berhasil.

Dengan kalimat yg cukup hati2 anak yg sulung berkata " Pak kami ingin sekali merawat ibu ,semenjak kami kecil melihat bapak merawat ibu tidak ada sedikitpun keluhan keluar dari bibir bapak.........bahkan bapak tidak ijinkan kami menjaga ibu" . dengan air mata berlinang anak itu melanjutkan kata2nya "sudah yg keempat kalinya kami mengijinkan bapak menikah lagi, kami rasa ibupun akan mengijinkannya, kapan bapak menikmati masa tua bapak ·dengan berkorban seperti ini kami sudah tidak tega melihat bapak, kami janji kami akan merawat ibu sebaik-baik secara bergantian".

Pak suyatno menjawab hal yg sama sekali tidak diduga anak2 mereka." Anak2ku ......... Jikalau perkawinan & hidup didunia ini hanya untuk nafsu, mungkin bapak akan menikah......tapi ketahuilah dengan adanya ibu kalian disampingku itu sudah lebih dari cukup, dia telah melahirkan kalian.. sejenak kerongkongannya tersekat,... kalian yg selalu kurindukan hadir didunia ini dengan penuh cinta yg tidak satupun dapat menghargai dengan apapun. coba kalian tanya ibumu apakah dia menginginkan keadaanya seperti Ini.

kalian menginginkan bapak bahagia, apakah bathin bapak bisa bahagia meninggalkan ibumu dengan keadaanya sekarang, kalian menginginkan bapak yg masih diberi Tuhan kesehatan dirawat oleh orang lain, bagaimana dengan ibumu yg masih sakit." Sejenak meledaklah tangis anak2 pak suyatno merekapun melihat butiran2 kecil jatuh dipelupuk mata ibu suyatno.. dengan pilu ditatapnya mata suami yg sangat dicintainya itu..Sampailah akhirnya pak suyatno diundang oleh salah satu stasiun TV swasta untuk menjadi nara sumber dan merekapun mengajukan pertanyaan kepada suyatno kenapa mampu bertahan selama 25 tahun merawat Istrinya yg sudah tidak bisa apa2..disaat itulah meledak tangis beliau dengan tamu yg hadir di studio kebanyakan kaum perempuanpun tidak sanggup menahan haru disitulah pak Suyatno bercerita.

"Jika manusia didunia ini mengagungkan sebuah cinta dalam perkawinannya, tetapi tidak mau memberi ( memberi waktu, tenaga, pikiran, perhatian ) adalah kesia-siaan. Saya memilih istri saya menjadi pendamping hidup saya, dan sewaktu dia sehat diapun dengan sabar merawat saya, mencintai saya dengan hati dan bathinnya bukan dengan mata, dan dia memberi saya 4 orang anak yg lucu2..

Sekarang dia sakit karena berkorban untuk cinta kita bersama..dan itu merupakan ujian bagi saya, apakah saya dapat memegang komitmen untuk mencintainya apa adanya. sehatpun belum tentu saya mencari penggantinya apalagi dia sakit,,,"....

Sumber Milis ...

Kenali Dirimu

A'udzuu biLlaahi minasy-syaithonir rajiim
BismiLlaahir-Rahmaanir-Rahiim

Jangan coba untuk membuka pikiran seseorang (dalam hal-hal Ruhaniah)
sebelum engkau sentuh jiwanya

Jangan coba untuk menyentuh jiwa seseorang
sebelum engkau buka mata hatinya yang tertutup

Dan jangan coba untuk membuka mata hati seseorang yang tertutup
sebelum khazanah maha-berhargamu yang tersembunyi (dalam dirimu) terbuka

Kenalilah dirimu
Temukanlah Realitas hakiki Hakikatmu
Temuilah DIA
sebelum menunjuk arah jalan (ruhaniah) kepada yang lain

Kata-kata abadi yang sesungguh-sungguhnya penuh barokah
berasal dari hati-hati (kalbu-kalbu) yang bersih
Bersihkanlah niatmu sebelum berkata dan bertindak

Sang jiwa bisa belajar dari keheningan kalbu
Keheningan kalbu mencerminkan sang Jiwa

Katakanlah hal ini melalui amal-amal saleh:
"Saya mencintai (kalian) semua yang mencintai saya karena Allah"

Semoga Allah mengampuni saya dan mencurahkan barokah kepada Anda.

Excerpted from the words of Wiyoso Hadi,
Author of "Catatan Harian Membuka Hati"
(Journal of Opening the Spiritual Heart)

[Forwarded post from Bung Kahlil]


--------------------------------------------------------------------------------


PH PRO
Publication & EO

Keindahan itu indah

Oleh Tsabita Adzimatillah

Hidup adalah sebuah anugrah terindah di atas dunia. Disebabkan karena hidup maka ada kehidupan, pun bermula dari kehidupan maka kematian adalah suatu yang niscaya. Namun demikian kematian bukanlah sesuatu yang dapat merenggut arti sebuah geliat kehidupan. Kematian sendiri adalah sebuah keindahan manakala kita dapat memaknainya sebagai anugrah. Karena setiap yang berjiwa takkan pernah bisa lari dari kematian. Allah berfirman, "Walan yuakh khirallahu idza jaa a ajaluha" yang artinya "dan Allah tidak akan menangguhkan kematian seseorang apabila telah tiba ajalnya" (Qs Al-Munafiqun:11).

Adalah lumrah, wajar, jika kita menangis tiap kali menghadapi sebuah kematian, apalagi jika yang terjadi adalah kematian orang-orang yang kita cinta seperti, ayah, ibu, suami dan anak. Tapi kematian orang-orang tercinta dapat menjadi sebuah pencerahan manakala dimaknai dengan sebuah keimanan, iman terhadap Qodarullah. Takdir yang sudah Allah tuliskan buat setiap jiwa saat dilahirkan. Terlebih bila mereka meninggal dalam keadaan khusnul khotimah.

Dalam 38 tahun perjalanan hidupku, aku menghadapi semua kematian orang-orang kucintai. Tahun 1993 aku kehilangan ayahku, tahun 2003 ibuku wafat. Sejak itu aku hidup bersama 7 orang adiku. Kehidupan kami tidak lah sulit meski juga tidak mudah. Apalagi kami hidup dijakarta, bahu membahu kami berusaha lalui kehidupan dengan segala konsekwensi dan kompleksitasnya.
Seiring waktu berlalu, aku menikah 18 April 2004 dengan seorang laki-laki yang baik yang Allah takdirkan jadi suamiku. Dia laki-laki terbaik yang Allah berikan untukku. Cintanya membuat hidupku jadi lebih banyak berarti. Dia memberiku nafas kedua dalam banyak hal, memberi dorongan dan semangat dalam banyak hal, termasuk menulis sebagai hobbyku dan sebagai akupunturis yang kini kutekuni sbg pekerjaanku. Terlebih dari itu dia adalah guru terbaik buatku dalam memahami Islam sebagai jalan kehidupanku. Dimataku dia luar biasa di balik segala kekurangannya, di balik ringkih tubuhnya dan penyakit yang menderanya. Hidupku penuh kebahagiaan bersamanya, sampai maut memisahkan kami. Dia meninggal pada 18januari 2008 karena penyakit bocor jantung yang dideritanya sejak lahir.

Sejak itu aku merasa kesendirian yang menghempaskanku pada ketakberdayaan, kalaulah tidak karena kuingat ayat-ayat cinta dalam Al-Qur'an, maka aku akan kian terpuruk dalam duka. Perlahan aku coba maknai kematian suamiku sebagai sebuah kesembuhan buatnya dari penyakit yang dideritanya, dan harusnya aku bahagia karena dia lepas dari deritanya.
Aku belajar melalui hidup sendirian. Kusibukan diri dengan klinik ku yang dibangun oleh almarhum suamiku untukku, klinik itu diberinya nama Harmony Rumah Sehat Holistic. Setiap hari aku berkutat dengan pasien-pasienku hingga waktu berlalu dengan tak terasa.

Melihat kesendirianku apalagi jauh dari keluargaku, aku tinggal di kota kecil di solo sementara adik-adikku di jakarta, keluarga dan saudara juga sahabat-sahabatku ikut prihatin. Hingga mereka berusaha mengenalkanku dengan seseorang untuk jadi pendamping hidupku. Setelah melalui proses perkenalan, aku menikah ke 2 kalinya dengan laki-laki yang usianya 14 tahun lebih tua dariku. Mulanya kuharap pernikahanku akan semanis pernikahanku pertama. Tapi ternyata jauh panggang dari api.

Aku dan bahkan sahabat yang menjodohkanku dengannya tidak pernah menyangka kalau suamiku punya kebiasaan bercinta dengan perempuan lain, sampai akhirnya aku memergokinya bercinta dengan seseorang di sebuah hotel. Belum lagi suamiku ke 2 ternyata di balik kelembutan dan kata-kata manisnya berlaku sangat kasar padaku, aku kerap dipukulnya, hanya karena masalah sepele, seperti meletakkan handphone tidak pada tempatnya. Terakhir puncak kesabaranku habis, ketika dia menendangku dan aku terjerembab di kaki tempat tidur, meyebabkan aku pendarahan hebat, padahal saat itu sedang hamil 2 bulan, aku nyaris keguguran. Karena peristiwa itu, aku menggugat cerai, tapi dia semakin marah dan kalap. kuputuskan sementara meninggalkan Solo dan tinggal dengan ibu mertua dari almarhum suamiku pertama yang mengasihiku seperti anak kandungnya. Beliau tinggal di salah satu kecamatan di kabupaten cilacap.

Selama dalam masa hijrahku kerumah mertuaku, adikku memproses perceraianku dengan suamiku. Mulanya dia menolak menceraikanku, tapi adik-adiku terus menekannya. Kalau akhirnya dia menceraikanku, dia memberi syarat tidak akan bertanggung jawab secara financial atas janin dalam rahimku. Buatku hal itu bukan sebuah masalah besar, aku masih bisa menafkahi diriku dan janinku. Akhirnya kami resmi bercerai pada 8 februari 2007.

Kembali aku menjalani kehidupan sebagai seorang janda, bedanya kini ada janin dalam rahimku, yang harus kujaga dan kurawat dalam keadaan hatiku yang tidak stabil. Meski aku membenci ayah dari janinku, tapi aku mencintai janinku. Kulalui hari-hari dengan sering mengajak janinku bercakap-cakap, membacakan alqur'an bersamanya, menyanyi untuknya dan banyak hal lain yang membuatku bisa melupakan kesedihan dan luka hatiku.

Bulan demi bulan berlalu. Pada tanggal 7Mei aku merasakan kontraksi pada rahimku, kutunggu sampai bukaan menjadi purna, tapu sampai sepekan kemudian, bukaan tanda persalinan belum juga bertambah, dokter bulang baru bukaan 2. Karena kondisiku yang lemah setelah 1pekan berlalu, pada 15 mei 2007 pk 20.00, dokter kandungan memutuskan aku harus menjalani operasi cesar. Dalam kesadaranli yang perlahan menurun karena pengaruh anestesi, aku mendengar tangis anaku, laki-laki, sangat keras. Mataku basah, hatiku basah, dalam hati kukatakan padanya "selamat datang didunia anakku sayang, ummi mencintaimu." Aku baru meraih kesadaranku pk 23.30, ketika dokter mengatakan ternyata anakku mengalami Hipoglikemi, kadar gula darahnya cuma 5mg/dl dari normal 80mg/dl. Dalam usia 3 jam anakku harus diinfus glucosa.

Kehadiran putraku membuat hidupku lebih bercahaya, lelahku setelah berkutat dengan pasien sirna, saat memandang senyumnya, cahaya matanya, belum lagi kelucuan tingkahnya. Anaku tumbuh menjadi anaklaki-laki yang tidak cengeng, tidak rewel, sangat mudah mengurusnya, inilah sisi kemudahan yang Allah beri buatku sebagai orang tua tunggal untuknya.
Tak terasa usianya 8 bulan sudah. dia mulai duduk, merangkak, dan belajar berjalan dengan baby walker. Celotehnya mulai ramai menghiasi rumah dan kehidupanku. Tawanya membuat hari-hariku merona bahagia. Aku suka menggelitik perutnya dengan ciumanku dan itu membuatnya tertawa-tawa kegelian, berteriak-teriak menggemaskan. Apapun bersamanya, semua terasa indah.
(hari ni kututup tulisan sampai di sini karena aku harus berhenti menulis, perutku lapar )

Kebersamaan yang indah dengan putraku tercinta ternyata hanya berlangsung sekejap. Hari-hari manis bersamanya harus pupus. 21 januari 2008, mendadak anakku sakit muntaber pada pukul 16.00. Segala cara medis yang kutahu kuupayakan untuk kesembuhannya. Di bawah pengawasan seorang dokter, di sebuah RS. Pukul 4 dinihari dia mulai panas dan kejang-kejang sampai akhirnya koma di ruang ICU, hatiku perih, melihat keadaan putraku, berbagai selang tertancap ditubuh mungilnya. Mulai selang infus sampai ventilator. Kisaran oksigen ditubuhnya menurun sampai di bawah 50 dari kisaran normal harusnya 90-100. Detak jantungnya begitu cepat, terikan nafasnya memburu berpacu dengan waktu, kulit mulus tubuhnya jadi merah membiru pertanda hipoxy, kekurangan oksigen.

Aku tergugu di sampingnya, menangis. Tapi segera kusadar, anakku tidak butuh tangisku, dia lebih butuh semangat dariku. Perlahan kubisikan di telinganya, "Sayang, ummi tau kamu anak ummi yang kuat, ayo dek, kita sama-sama berjuang agar adek sembuh, kita bantu para perawat dan dokter dengan do'a kita ya nak, adek berdoa dengan cara adek, ummi juga berdo'a, semangat ya sayang...ayoo nak semangat....ayo cinta, ayo tarik nafas panjang biar oksigenmu sampai 100, ummi tau anak ummi ini pinter, kuat dan hebat"
"Ayo sayang kita melantun dzikir, Allahumasyfii nak...adek ingat, adek pernah berjuang waktu adek baru lahir, adek bisa dengan izin Allah meraih kondisi terbaik untuk glukosamu, ayo sayang...ummi yakin ade pejuang hebat, mujahid ummi yang tangguh, ayo sayang...dalam darahmu ada darah ummi, maka kamu juga harus kuat ya nak...karena ummi juga berusaha jadi ibu yang tangguh buatmu..ayo sayang terus..terus..terus hirup oksugen sebanyak-banyaknya nak biar adek sehat bisa bercanda lagi sama ummi."

Menit demi menit berlalu, aku tak meninggalkkannya sedetikpun kecuali untuk sholat dan sekedar mengisi perutku dengan makanan karena aku butuh tenaga dan fisik yang sehat buat menjaga putraku. Pun makan kulakukan di sisinya.
Dengan sepenuh cintaku padanya aku berharap dalam do'aku agar Allah memberikan yang terbaik untuk kami. Aku masih terus membisikkan semangat cinta, dzikir cinta, kata-kata cinta untuknya, ketika perlahan dan perlahan oksigennya mencapai angka 90-100. Perawat bilang ini keajaiban. Dan Subhanallaha...pukul 21.00, 22 Januari 2208, anakku sadar, dia menolehkan kepalanya dan tersenyum padaku..."alhamdulillah anak ummi sudah bangun, jazakallah ya nak, adek sudah berjuang untuk bisa senyum lagi untuk ummi."
Kucium dan kubelai sayang putraku, dia tersenyum kian lebar dan berkata lirih, "mi...."
"Ya sayang, ummi di sini, adek istirahat ya nak, bobo lagi kalo ade ngantuk, ummi di sini menjagamu sayang...."

Kulantun dzikir dan doa sambil membelainya dengan cinta, dia tertidur sambil tersenyum. Tanpa kusadari, karena lelah, aku pun tertidur sambil duduk disisinya dan kepalaku rebah di sisi wajahnya.
Tiba-tiba kurasakan jilbabku ditarik-tarik, aku terbangun, ternyata anakku menarik-narik jilbabku dan tersenyum.
"Apa sayang? Maaf ummi tertidur, adek mau ngobrol lagi sama ummi?"
Anakku tersenyum manis, sangat manis...tapi tiba-tiba dia kejang...aku panik, dilayar monitor kubaca oksigennya drop..ya Allah...apa yang terjadi...? Baru saja dia sadar dan sekarang kembali kejang, aku panik dan berteriak...' susteeeerrrrrrr...tooloong...!!!."

Dalam sekejap perawat dan dokter berlarian menghampiri anakku. Mereka mengupayakan agar oksigennya kembali normal. Darahnya diambil lagi...ya Allah, air mataku menderas sambil terus berucap, "sayang..ayo nak..berjuang lagi, ayo dek, kamu pasti bisa, sayang...ummi mencintaimu nak, jangan menyerah nak..ayo sayang terus berjuang..."
Doa dan dzikir tak putus dari bibir dan hatiku. detik demi detik berlalu dalam kecemasan, sementara dokter dan para perawat terus berusaha menolong anakku.

Saat kularut dalam dzikir dan menyemangati anakku, dokter berkata, "bu, sudah ya diikhlaskan, putranya sudah pergi dengan tenang."
Mataku terbelalak menatap anakku, serasa tak percaya pada perkataan dokter, kocoba meyakinkan diriku... ya Allah akhirnya Kau ambil juga dia dariku. Innalillahi wa inna ilaihi rojiun...
Tubuhku lemas, lunglai, aku semaput di pelukan adikku yang datang menemani saat anakku kritis menjelang ajalnya 30 menit yang lalu. Kulihat waktu menunjukkan pk 21.30, 22 Januari 2008.

Dalam beberapa saat aku menangis, dia satu-satunya anakku akhirnyaharus pergi juga. Aku coba meraih kekuatan dengan memeluk jasadnya. Aku mencoba menguatkan diri dengan menciumi tubuhnya dan subhanallah...kucium harum tubuhnya, sangat harum sekali...bahkan 3 orang adik yang menemaniku mencium harum yang sama, harum khas yang hanya bisa ditimbulkan karena kesyahidan.

Perlahan tapi cukup bisa didengar beberapa sahabat yang saat itu langsung datang mendengar anakku meninggal, salah seorang adikku berkata, "Rosuullohbersabda, "man mata fil bathni fahuwa syahidun, dan orang yang meninggal karena sakit perut dia syahid" dan aku bersaksi saat ini aku mencium harum tubuh syahidnya keponakanku karena diare yang dideritanya."
Dalam kesedihan aku mengaminkan ucapannya. Diare memang pemicu yang menyebabkan glucosanya drop sampai 13mg/dl dan oksigennya turun drastis. Kekuatanku kembali, meski masih menangis aku sanggup menggendong jasad anakku sampai pulang ke rumah bahkan ketika keesokan paginya aku sanggup memangku jasad anakku ketika dimandikan.

Setelah pemakaman lewat 2 hari, rumahku kembali sepi, sanak saudaraku kembali ke rumah mereka masing-masing. Aku larut dalam dukaku tiap kali memandang foto anakku, aku menangis dan menangis, sampai adikku berinisiatif menyimpan sementara semua foto, mainan, benda-benda dan pakaian anakku di rumah salah seorang saudaraku.
Aku mencoba mengatasi duka dengan menenggelamkan diri di perpustakaan pribadiku. Larut dalam buku-buku bacaan. Kucoba mencari hikmah dari kematian anakku. Lembar demi lembar halaman, buku demi buku kubaca hingga sering aku tertidur bertumpukan buku-buku yang kubaca.
Dua pekan berlalu, aku terus mencari dan mencari hikmah agar dapat melebur dukaku menjadi selarik bahagia, untuk menepis tangisku agas menjelma seulas senyum di bibir dan hatiku. Saat mataku teramat sangat lelah akibat kupaksakan mengakomodasi bacaan, saat letih mendera tubuh setelah berhari-hari berkutat dengan buku-buku kutemui sebaris kata yang.....pllllaaassshhhhh.....memecah dukaku, menepis tangis menjadi syukur. kalimat itu adalah "Sesungguhnya bila seorang ibu mendapatkan kematian putranya, lalu ia mengucapkan hamdalah dan istirja, maka Allah akan membangunkan Baitul-Hamd baginyadi surga" (HR: Tirmidzi dan Ahmad)

Subhanallah...masya allah...betapa Allah sayang padaku. Aku belum lagi berbuat kebaikan yang banyak, tapi Allah menganugrahkan padaku janji yang pasti, SURGA...siapa yang tak hendak menuju dan mendiaminya?
Aku bangkit dari dukaku, kuhapus airmataku dan kutekadkan buat menghadapi hari-hari ke depan yang kutahu masih teramat panjang. Allah telah mengambil putraku, tapi digantikan dengan surga untukku. Ya Rahman...betapa maha kasih Engkau...telah kau siapkan surga untukku, dan telah kau siapkan putraku untuk menjemputku di pintu surgamu...maka adalah tugasku membuka pintu surgamu dengan perbuatan baik yang akan memberiku kemudahan-kemudahan untuk menujunya.

Aku mulai menata hari-hariku, hidupku, mengoperasionalkan lagi klinik yang kututup selama 2 pekan. Meski kadang masih luruh air mata karena rinduku pada anakku, tapi airmata justru jadi pelecut asa dalam tangis rinduku.
Satu pekan sudah aku berkutat lagi dengan klinik dan aneka pasien yang datang padaku. Lagi dan lagi Allah tak pernah biarkan diriku untuk diam tanpa "membaca." Dikirimkannya padaku pasien-pasien cilik, bayi-bayi dan anak-anak dengan beragam penyakit. Betapa mereka menderita berbilang bulan dan tahun dalam penyakit mereka. Betapa orang tua mereka mengalami mas-masa sulit dan ujian kesabaran menghadapi sakit anak-anak mereka.Betapa mereka belum lagi tahu kesudahan dari penyakit anak-anak mereka...ooo ya Rahim....betapa aku layak bersyukur, anakku tak lama dalam derita sakitnya, betapa aku harus bersyukur tak payah ujianku dalam sakit anakku, betapa aku harus sangat bersyukur dengan kesudahan yang baik dari sakitnya anakku dan betapa..ya Robb...kau beri imbalan dengan janji surgamu atas musibah yang kuhadapi.

Belum lagi aku selesai "membaca" ayat-ayat kauniyahNya, seorang ukhti datang padaku dengan tausyiahnya "Kita telah menjual diri kita kepada Allah, dihadapan kita tidak ada pilihan lain kecuali menyerahkan apa yang telah kita jual kepada yang membelinya. Dan ketika pembeli telah menerima apa yang dibelinya maka dia berhak melakukan apa saja atas apa yang dibelinya, bisa dia memelihara ataupun membunuhnya, bisa memakaikan pakaian terindah atau membuatnya telanjang. Layakkah kita marah jika seseorang membeli seekor kambing dari kita lalu dia menyembelih kambing yang dibelinya? Pantaskah kita gundah karenanya? Sesungguhnya Allah telah membeli jiwamu dari dirimu, dan engkau berusaha menyerahkan barang yang sudah dibeli dan menerima harga yang sangat pantas, dan janganlah menyerahkan barang dagangan yang ada aibnya, sedang engkau ingin menerima harga secara utuh, Dia lah yang berkuasa atas dirimu dan bukan dirimu sendiri."
Aku tersungkur dalam sujud dann tangis syukurku. Ketika annakku lahir dalam segala kesulitan yang kualami aku telah meniatkan dan melisankan "Ya Allah, alhamdulillah atas anugrah anak laki-laki dalam hidupku, saksikan ya Robb, aku menjual anakku di jalanMu, jadikan dia anak yang sholeh, tumbuh kembangkanlah dia dengan sehat, jadikan dia mujahid penegak din MU dimuka bumi, syahidkan dia diakhir hidupnya, karena kujual dia padaMU seharga surgaMu"

Aku kian disadarkan bahwa Allah tak pernah salah dalam setiap kehendaknya, Dia telah membeli jiwa anakku dengan harga yang kuminta. Fabbi ayyi a'lla i robbikuma tukadzibaaan...maka nikmat Robb mu yang mana yang bisa kau dustakan?Masya Allah...
Senyum kian rekah di bibirku. Pelangi kian rona di jiwaku. aku menapaki hari-hari hingga saat aku menuliskan semua ini dengan sebuah kesyukuran yang amat sangat. Duka telah mengajarkan padaku banyak hal. Duka telah menjadi sekolah buatku belajar lebih baik dengan guru yang maha baik, maha segalanya...Allah, Ar Rahman, A Rahim...Dia lah guru terbaik dalam kehidupanku.

Lihat..bukankah kesedihan itu indah, manakala kita mampu menyingkap lapis demi lapis hikmah yang tersembunyidi dalamnya. Meski demikian kita harus berjuang utnuk mendapatkan keindahan di balik setiap kesedihan. Meski kita harus berjuang untuk mengalahkan pikiran negatif dari cupet dan sempitnya akal dan nafsu kita yang seringkali membujuk kita untuk lunglai, layu, terpuruk dalam kesedihan.

Kesedihan itu indah, karena Allah Maha Indah dalam setiap kehendakNya.
(Rampung kutulis, 24 Februari 2008, pk 11.43, dengan segala persembahan cinta buat Robbku dan anakku Daffa Rifqy Rizqurrahman, "tunggu ummi di pintu jannah ya nak...")

KOnsep Cinta, Keikhlasan dan Manajement Strees

Dahulu kala di Jepang terdapat sebuah kebiasaan yang dilakukan oleh para petani miskin yang disebut 'Ubasute', yaitu membuang orang tua mereka yang telah lanjut usia di daerah pegunungan.

Hal ini dilakukan karena mereka terlalu miskin untuk menghidupi orang tua mereka. Cerita ini adalah cerita kuno dan di masa ini tentu saja tidak dilakukan hal seperti itu.

Ceritanya:
Pada hari itu, seorang ibu tua dengan digendong oleh puteranya berangkat menuju gunung untuk 'disisihkan' .

Namun selama perjalanan ia mematahkan anting-ranting dan menjatuhkannya.
Ketika ditanya oleh puteranya, ia menjawab, "Agar kau tidak tersesat pada waktu kembali ke desa."

Mendengar hal itu, puteranya terharu dan menangis lalu menggendong ibunya dan kembali ke rumah mereka.

Hikmah apa yang dapat kita ambil dari kisah diatas?
Tentu banyak sekali, melimpah bagaikan air yang mengucur, mengalir deras ke telaga hati.

Hikmah betapa kasih sayang orangtua kita tak akan luntur sepanjang zaman, walaupun mungkin kita sendiri telah menjadi orang tua dari anak-anak kita.


JAGUNG

Seorang wartawan mewawancarai seorang petani untuk mengetahui rahasia di balik buah jagungnya yang selama bertahun-tahun selalu berhasil memenangkan kontes perlombaan hasil pertanian.

Petani itu mengaku ia sama sekali tidak mempunyai rahasia khusus karena ia selalu membagi-bagikan bibit jagung terbaiknya pada tetangga-tetangga di sekitar perkebunannya.

"Mengapa anda membagi-bagikan bibit jagung terbaik itu pada tetangga-tetangga anda? Bukankah mereka mengikuti kontes ini juga setiap tahunnya?" tanya sang wartawan.

"Tak tahukah anda?," jawab petani itu.
"Bahwa angin menerbangkan serbuk sari dari bunga-bunga yang masak dan menebarkannya dari satu ladang ke ladang yang lain.

Bila tanaman jagung tetangga saya buruk, maka serbuk sari yang ditebarkan ke ladang saya juga buruk.

Ini tentu menurunkan kualitas jagung saya. Bila saya ingin mendapatkan hasil jagung yang baik, saya harus menolong tetangga saya mendapatkan jagung yang baik pula."

Begitu pula dengan hidup kita. Mereka yang ingin meraih keberhasilan harus menolong tetangganya menjadi berhasil pula.

Mereka yang menginginkan hidup dengan baik harus menolong tetangganya hidup dengan baik pula. Nilai dari hidup kita diukur dari kehidupan-kehidupan yang disentuhnya.


MANAJEMEN STRESS

Pada saat memberikan kuliah tentang Manajemen Stress Steven Covey mengangkat segelas air dan bertanya kepada para siswanya: "Seberapa berat menurut perkiraan anda segelas air ini?"

Para siswa menjawab mulai dari 200 gr sampai 500 gr.
"Ini bukanlah masalah berat absolutnya, tapi tergantung berapa lama anda memegangnya. " kata Covey.
Jika saya memegangnya selama 1 menit, tidak ada masalah.
Jika saya memegangnya selama 1 jam, lengan kanan saya akan sakit.
Dan jika saya memegangnya selama 1 hari penuh, mungkin anda harus memanggilkan ambulans untuk saya.

Beratnya sebenarnya sama, tapi semakin lama saya memegangnya, maka bebannya akan semakin berat.

Jika kita membawa beban kita terus menerus, lambat laun kita tidak akan mampu membawanya lagi. Beban itu akan meningkat beratnya." lanjut Covey.

Apa yang harus kita lakukan adalah meletakkan gelas tersebut, istirahat sejenak sebelum mengangkatnya lagi.

Kita harus menanggalkan beban kita secara periodik, agar kita dapat lebih segar dan mampu membawanya lagi.

Jadi sebelum pulang ke rumah dari pekerjaan sore ini, tinggalkan beban pekerjaan.
Jangan bawa pulang. Beban itu dapat diambil lagi besok.
Apapun beban yang ada di pundak anda hari ini, coba tinggalkan sejenak jika bisa. Setelah beristirahat nanti dapat diambil lagi......

Hidup ini singkat, jadi cobalah menikmatinya dan memanfaatkannya.

Hal terindah dan terbaik di dunia ini tak dapat dilihat, atau disentuh, tapi dapat dirasakan jauh di relung hati kita...